Senin, 23 Februari 2009

Tokoh _ Tokoh Filsafat

1. Al Ghazali

Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al Ghazali (lebih dikenal dengan sebutan Al Ghazali) pada tahun 450 / 1058 M. Pada dasarnya, buku-buku yang dikarangnya, merupakan upayanya untuk membersihkan hati umat islam dari kesesatan, sekaligus pembelaan terhadap seranganserangan dari pihak luar, baik islam maupun barat (orientalis). Menurut Al Ghazali, transinternalisasi ilmu dan proses pendidikan merupakan sarana utama untuk menyiarkan ajaran islam, memelihara jiwa, dan Taqarrup Ila Allah.


Pemikirannya tentang tujuan pendidikan islam dapat diklasifikasikan kepada 3 yaitu:
  • tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah.
  • Tujuan utama pendidikan islam adalah pembentukan akhlak al qarimah.
  • Tujuan pendidikan islam adalah mengantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia akhirat

Mengenai materi pendidikan Al Ghazali terdapat bahwa alquran beserta kandungannya adalah merupakan ilmu pengetahuan, isinya sangat bermanfaat bagi kehidupan, memperindah akhlak, dan mendekatkan diri kepada allah.

2. Ibnu Khaldun

Abdul Al Rahman Abu Zaid ibnu Muhammad ibnu Khaldun (lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun) lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M. Dan meninggal di Kairo tanggal 25 Ramadhan 808/19 Maret 1406 M. Menurut Khaldun, manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya, akan tetepi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat istiadat. Karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggung jawab dan sekaligus memberikan corak perilaku seorang manusia. Hal ini memberikan arti, bahwa pendidikan menempati posisi sentral dalam rangka membentuk manusia ideal yang di inginkan.

Khaldun mengemukakan 6 prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik dalam melaksanakan tugasnya:

  • prinsip pembiasaan
  • prinsip tadrij (beransur-ansur)
  • prinsip pengenalan umum (generalistik)
  • prisip kontiunitas
  • memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik.
  • menghindari kekerasan dalam mengajar.

3. Ikhwan Al Shafa

Ikhwan Al Shafa adalah sebuah perkumpulan rahasia yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan namanya, Ikhwan Al Shafa berarti pesaudaraan yang suci dan bersih, maka asas utama perkumpulan ini adalah persaudaraan yang dilakukan secara tulus ikhlas, kesetiakawanan yang suci murni, serta saling menasehati antara sesama anggota dalam menuju ridha Allah.

Teori Ikhwan Al Shafa tentang pendidikan didasarkan atas gagasan filsafat Yunani. Menurut Ikhwan setiap anak lahir membawa sejumlah bakat (potensi) yang perlu diaktualisasikan. Oleh karena itu, pendidik tidak boleh menjejali otak peserta didik dengan ide-ide atau keinginanya sendiri. Pendidik hendanya mengangkat potensi latin yang terdapat dalam diri peserta didik. Pendidik dan orang tua dituntut untuk memberikan contoh yang baik dalam perilaku dan tindakannya sehari-hari sehingga menjadi panutan bagi peserta didik ke arah yang lebih baik.

4. Al Kindi

Al Kindi dilahirkan di Kuffah sekitar tanun 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Ia sangat tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu. Penguasaannya terhadap filsafat dan disiplin ilmu telah menempatkan ia menjadi orang islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran para filosof terkemuka. Karena itu pulalah ia dinilai pantas menyandang gelar Failasuf Al Arab (filosof berkebangsaan Arab).

5. K.H. Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1868 dan meninggal pada tanggal 25 Februari 1923.
Menurut beliau pendidikan islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya, Hal ini berarti bahwa pendidikan islam merupakan upaya pembinaan pribadi muslim sejatiyang bertaqwa.

Menurut Dahlan, materi pndidikan adalah pengajaran Al quran dan Hadist, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, dan mengambar. Materi Al quran dan Hadist meliputi ibadah, pers derajat, fungsi perbuatan manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktiann kebenaran Al quran dan Hadist menurut akal, kerja sama antara agama-kebudayaan-kemajuan peradaban, hukum kausalits perubahan, nafsu dan kehendak, demokretisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berfikir dinamika kehidupan dan peranan manusia didalamnya, dan akhlak (budi pekerti).

6. Zainuddin Labay El Yunus

Syekh Zainuddin Labay ei Yunus lahir di Bukit Surungan Padang Panjang pada hari kamis, tanggal 12 Ra’jab 1308 H / 1890 M. Meninggal pada tahun 1924 M dalam usia 34 tahun. Untuk mewujudkan cita-citanya, pada tanggal 10 Oktober 1915, ia mendirikan Diniyah School di Padang panjang yang sarat dengan ide pembaharuan. Ia melakukan perombakan terhadap sistem dan metode pendidikan islam, menyusun kurikulum dan daftar pelajaran yang lebih sistematis, serta mengubah sistem pendidikan surau dengan sistem pendidikan klasikal.

Melalui lembaga pendidikan yang didirikannya, ia berharab dapat menciptakan dapat menciptakan out put yang berkualitas, tidak hanya ilmu agama akan tetapi juga ilmu-ilmu umum lainnya. Out put seperti ini sangat dibutuhkan umat dan bangsa ini untuk membangun perdaban dan mengejar ketertinggalannya selama ini.
Metode yang diterapkan Zainuddin untuk memperkenalkan tulisan Arab dan menyusun kalimat dalam bahasa ArabMelayu, baru kemudian bahasa Arab sesungguhnya. Untuk kelas rendah, dia menyusun sendiri buku pelajaran muridnya dalam bahasa Arab Melayu, kemidian untuk kelas menengah, bahasa Arab yang digunakan adalah bahasa Arab sederhana, sementara untuk kelas tertinggi ia menggunakan buku-buku terbitan Kairo dan Bairut.

Melalui berbagai tulisannya, ia mencoba membuka wawasan umat islam tentang Universalitas ajaran islam. Ia bahkan tidak segan-segan mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan fatwa ulama terdahulu, jika memang ia pandang pendapat tersebut telah tidak digunakan lagi sesuai dengan ruh universal ajaran islam. Dalam upayanya ini, ia seringkali mendapat kritikan dan tantangan dari para ulama tradisional. Ia bahkan dituduh sebagai ulama yang sesat dan ulam wahabi yang telah keluar dari mazhab Abl al Sunnah Wa al Jamaah. Namun demikian, hal tersebut tidak membuatnya patah semangat, bahkan semakin mendorongnya untuk tetap kritis dan konsisten dengan ide pembaharuannya. Oleh karena itu, tak heran jika steenbrink menilai ketokohannya sebagai sosok ulama yang memiliki kepribadian kokoh.

7. Rahmah El Yunusiah

Rahman El Yunusiah lahir pada hari jumat 1 Ra’jab 1318 H / 26 Oktober 1900 di Padang panjang dan wafat pada hari rabu 9 Zulhijjah 1388 H / 26 Februari 1969 M. Ia anak bungsu pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafiah.Meskipun pendidikan perempuan kurang mendapat perhatian keadaan tersebut tidak membuat Rahmah terbelakang. Bahkan keadaan tersebut membuat ia lebih bersemangat untuk memajukan pendidikan kaum perempuan.

Konsepsi pendidikan Rahmah di dasarkan pada konsep ” pendidikan untuk semua”. Falsafah ini diangkat dari prinsip yang terdapat di dalam Al quran dan Hadist yang memposisikan manusia pada posisi yang sama.Perbedaan diantara manusia yang satu dengan yang lainnya hanya terletak pada tingkatan ketaqwaan. Tujuan ideal ini menempatkan manusia, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu pengetahuan. Pendidikan yang diterapkan berupaya membentuk pribadi yang memiliki keterikatan transenden (ruh islah). Di samping itu, lembaga pendidikan ini juga berupaya memberikan latihan kecakapan (keterampilan) guna memunculkan kreatifitas dan realisasi peran kekhalifahan manusia di muka bumi.

Untuk memperkaya wawasannya, ia melakukan beberapa studi banding di beberaa daerah untuk memperoleh masukan bagi menyempurnakan sistem pendidikan madrasah Diniyah Puteri. Ddi antara hasil studi banding ini, ia memndang perlu untuk melakukan moderanisasi kurikulum dengan memasukkan mata pelajaran umum pada institusi yang didirikannya.

Pembaharuan lain yang ditawarkan Rahmah el Yunisiah melalui madrasah Diniyah Puteri adalah menyeimbangkan aspek koniktif, afektif, dan psikomotorik dalam aktivitas proses pendidikan. Hal ini tampak usahanya untuk memberikan pendidikan keterampilan praktis bagi kaum perempuan. Keterampilan tersebut antara lain: keterampilan memasak, bertenun, industri rumah tangga, olah raga, dan P3K kepada peserta didiknya. Jika pemikiran yang dilakukan ini dilihat dari perpektif filsafat pendidikan islam, maka terlihat bahwa langkah pembaharuannya merupakan perwujudan teori Equilibrium.



8. Syekh Muhammad Naquib Al Attas

Syekh Muhammad Naquib Al Attas dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September 1913. Melihat garis keturunan dapat dikatakan bahwa al Attas merupakan ”bibit unggul ” dalam percaturan perkembangan intelektual islam di Indonesia dan Malaysia. Terusik oleh panggilan nuraninya untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya dari Sukabumi, ekembalinya ke Malaysia, al Attas memasuki dunia militer dengan mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan dalam upaya mengusir penjajah Jepang.

Setelah Malaysia merdeka (1957), al Attas mengundurkan diri dari dinas militer dan mengembanggkan potensi dasarrnya yakni bidang intelektual. Dia sangat tertarik dengan praktik sufi yang berkembang di Indonesia Dan Malaysia, sehingga cukup wajar bila tesus yang diangkatnya adalah konsep Wujudiah al Raniry. Salah satu alasanya adalah dia ingin membuktikan bahwa Islamisasi yang berkembang di kawasan tersebut bukan dilaksanakan oleh kolonial Belanda, melainkan murni dari upaya umat islam sendiri.

Pemikiran Naquib Al Attas :

a. De Westernisasi dan Islamisasi

Mempunyai arti pembersihan dari westernisasi. De westernisasi di pahami sebagai upaya penlepasan sesuatu dari proses pembaratan atau dengan kata lain memurnikan sesuatu dari pengaruh Barat.
Dalam batasan al Attas De westernisasi adalah proses mengenal, memisahkan, dan mengasingkan unsur-unsur sekuler (subtansi, roh, watak dan kepribadian kebudayaan serta peradaban Barat) dari tubuh pengetahuan yang akan merubah bentuk-bentuk, nilai-nilai, dan tafsiran konseptualisasi pengetahuan seperti yang disajikan sekarang.

b. Metafisika dan Epistemologi

Pemikiran metafisika al Attas berangkat dari paham teologinya. Dalam tradisi islam dikenal beberapa istilah terutama dalam tradisi tasawuf. Al Attas memberikan batasan yang mengenai berbagai tingkatan para salik (orang yang melakukan olah spritual tasawuf) dalam dunia kesufian.
Sumber dan metode ilmu al Attas mengatakan bahwa ilmu datang dari tuhan dan diperoleh melalui sejumlah saluran indra yang sehat, laporan yang benar yang disandarkan pada otoritas, akal yang sehat dan intuisi.

9. K.H. Hasyim Asyari

K.H. Hasyim Asyari lahir di desa Nggedeng pada hari selasa kliwon, tanggal 25 Juli 1871 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim Asyari ibnu Abdul Wahid ibnu Abdul al Halim yang mempunyai gelar pangeran Bona ibnu Abdul al Rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir.
Dalam membahas masalah ini, ia banyak mengutip ayat-ayat Al quran yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan orang yang ahliilmu. Tidak cukup hanya ayat –ayat Al quran, pembahasan dalam bab pertama tersebut dilengkapi dengan berbagai hadist Nabi dan pendapat ulama, yang kemudian diulas dan dijelaskan dengan singkay dan jelas. Ia misalnya, menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahuan adalah mengamalkannya. Hal yang demikian dimaksudkan agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar