Saturday, January 15, 2011

Jadikanlah Membaca Al-Qur’an Itu Sebagai Gaya Hidup

Berapa lama waktu kita “menyentuh” al-Quran dibanding waktu kita melihat TV atau menyentuh Hanphone?
 
(Ada lima obat penentram jiwa, Pertama, cinta al-Qur’an dengan menyelami maknanya. Kedua, sujudkan jiwa raga di tengah sunyi malam. Ketiga, senantiasa dekatkan dirimu kepada orang sholeh, Keempat, adapun terhadap rasa lapar upayakan bertahan. Kelima, asyiklah berdzikir dan jangan pernah bosan. Salah satu saja engkau khusyu’ melakukannya Insya Allah nasibmu akan dirawat oleh Yang Maha Kuasa).
 
Demikianlah salah satu syair “Tombo Ati” (Obat Merawat Hati) yang pernah dinyanyikan Emha Ainun Nadjid dan Opick.
 
Hati yang sedih, gelisah, takut (kepada selain Allah), marah dan kuatir memerlukan obat. Hati yang tidak ridho, tidak puas, tamak, iri, dengki dan hasad juga membutuhkan obat. Salah satu obat mujarab yang telah ditawarkan Islam adalah dengan membaca al-Qur’an dan merenungkan maksud dalam kandungannya. Namun sayangnya, ada sebagian umat Islam yang jarang bahkan sama sekali tidak pernah memanfaatkan “obat” yang telah diberikan penciptanya dan lebih memilih menggunakan beragam obat lainnya hasil karya ciptanya sendiri untuk mengobati hatinya. Meskipun tanpa disadari sebenarnya pada kenyataannya obat-obat tersebut tidak atau kurang mujarab, bahkan boleh dikata hanya efektif untuk sementara waktu saja.
 
Salah satu “obat” yang seringkali menipu adalah jenis-jenis hiburan yang dikemas seolah-olah baik dan bernuansa religi. Padahal sesungguhnya tidak.
 
Di zaman yang sarat dan marak dengan hiburan yang semakin beragam jenis dan bentuknya, serta bisa didapat dengan mudah dan murah seperti sekarang ini, hiburan tidak lagi sekedar berfungsi sebagai tontonan tapi telah menjadi kebutuhan. Bahkan telah menjadi tuntunan. Hiburan kini telah pedoman dan gaya hidup (life style) manusia modern apapun ras dan agamanya tanpa terkecuali yang beragama Islam.

Banyak Bersyukur, Tanda Nikmatnya Keimanan

Apakah kita merasa hina ketika fasilitas hidup yang kita terima tak sama dengan tetanggga atau saudara kita yang lain?
 
Alkisah, Bukhari Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah mengrim malaikat sedang menguji tiga orang yang catat. Pertama-tama Malaikat datang pada penderita lepra. ”Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” si lepra menjawab, “Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.” Malaikat mengusap penderita lepra dan hilanglah penyakit yang dideritan.
 
Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Ia menjawab, 'Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang bunting.
 
Malaikat kemudian mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling kamu inginkan?” Si botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.“ Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, “Sapi atau unta.“ Maka diberilah ia seekor sapi bunting.

Saturday, December 25, 2010

Gambaran Umat Nabi Muhammad SAW

Seperti apakah gambaran umat Muhammad Saw itu ? Benarkah kita layak disebut sebagai umat muhammad? Apa saja ciri-ciri dari umat Muhammad Saw? Bukankah Islam nantinya akan terpecah belah menjadi 73 golongan ? Termasuk golongan yang manakah kita ?Apa sebenarnya peran umat Islam dalam kehidupan ini ?
 
Istilah umat didefenisikan sebagai:
 
"Sekelompok orang yang terikat secara bersamaan dengan kesamaan aqidah."
 
Selanjutnya, istilah umat tidak untuk orang-orang yang mempunyai kesamaan ras atau warna kulit; umat hanya untuk orang-orang yang dipersatukan dengan aqidah dan jalan hidup mereka saja. Istilah ini tidak cocok jika didefenisikan sebagai "negara", karena sebuah negara adalah sekelompok besar orang-orang yang tinggal pada sebuah daerah atau wilayah tertentu. (sebuah umat bisa eksis tanpa hidup di sebuah negara).
 
Allah swt telah mengkategorikan manusia menjadi 2 kelompok:  
  1. Al-Umatul-Islaamiyah (Umat Islam)  
  2. Al-Umatul-Kafiraah (Ummat yang tidak beriman)
Lebih lanjut, hanya ada dua camp (kelompok) ; setiap orang (tidak kecuali) apakah seorang Muslim atau Kafir. Yahudi, Nasrani, Sikh, Hindu, Budha semuanya adalah al-Umatul-Kafirah; dengan kata lain, mereka semua tidak beriman kepada Allah.