Berapa lama waktu kita “menyentuh” al-Quran dibanding waktu kita melihat TV atau menyentuh Hanphone?
(Ada lima obat penentram jiwa, Pertama, cinta al-Qur’an dengan menyelami maknanya. Kedua, sujudkan jiwa raga di tengah sunyi malam. Ketiga, senantiasa dekatkan dirimu kepada orang sholeh, Keempat, adapun terhadap rasa lapar upayakan bertahan. Kelima, asyiklah berdzikir dan jangan pernah bosan. Salah satu saja engkau khusyu’ melakukannya Insya Allah nasibmu akan dirawat oleh Yang Maha Kuasa).
Demikianlah salah satu syair “Tombo Ati” (Obat Merawat Hati) yang pernah dinyanyikan Emha Ainun Nadjid dan Opick.
Hati yang sedih, gelisah, takut (kepada selain Allah), marah dan kuatir memerlukan obat. Hati yang tidak ridho, tidak puas, tamak, iri, dengki dan hasad juga membutuhkan obat. Salah satu obat mujarab yang telah ditawarkan Islam adalah dengan membaca al-Qur’an dan merenungkan maksud dalam kandungannya. Namun sayangnya, ada sebagian umat Islam yang jarang bahkan sama sekali tidak pernah memanfaatkan “obat” yang telah diberikan penciptanya dan lebih memilih menggunakan beragam obat lainnya hasil karya ciptanya sendiri untuk mengobati hatinya. Meskipun tanpa disadari sebenarnya pada kenyataannya obat-obat tersebut tidak atau kurang mujarab, bahkan boleh dikata hanya efektif untuk sementara waktu saja.
Salah satu “obat” yang seringkali menipu adalah jenis-jenis hiburan yang dikemas seolah-olah baik dan bernuansa religi. Padahal sesungguhnya tidak.
Di zaman yang sarat dan marak dengan hiburan yang semakin beragam jenis dan bentuknya, serta bisa didapat dengan mudah dan murah seperti sekarang ini, hiburan tidak lagi sekedar berfungsi sebagai tontonan tapi telah menjadi kebutuhan. Bahkan telah menjadi tuntunan. Hiburan kini telah pedoman dan gaya hidup (life style) manusia modern apapun ras dan agamanya tanpa terkecuali yang beragama Islam.